Babel_News™ | TEMPAT UPDATE INFORMASI TERBARU | NEWS UPDATEBabel_News™: kimia
Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan

Vinegar Apples, The 'cure' Acid

Written By Bayu_Tecno™ on Sabtu, 11 Februari 2012 | 09.15

cuka apel
According to the study, acetic acid found in apple cider vinegar can kill cells kanker.Dipagi this bright this time bayu7key will share some tips about health tips Vinegar Apples, The 'cure' of the acid-winded talk passable width swapped directly refer to the troubleshooting tips aja the wind can of vivanew forum. com okay ...

One more natural concoction that you can rely on to resolve minor health problems, the balsamic vinegar. The fermentation of apple fruit is known to have many benefits.
According to research John Institute for Cancer Research, acetic acid found in apple cider vinegar can kill cancer cells. Acid, as reported by the Reader's Digest, serves to hold the intake of energy needed to develop the cancer cells.Not only that, there are other benefits of apple cider vinegar, you need to know.
A. Overcome fatigueSports and extreme stress would make the accumulation of lactic acid in the body that trigger fatigue. Amino acids contained in apple cider, the lactic acid acts as a deterrent.Combined amino acids, potassium and enzymes contained in them can ease fatigue more effectively. So, when you feel very tired, drink a glass of water mixed with two tablespoons of apple cider vinegar.
2. Make your teeth whiterWant to make teeth look clean? Try to gargle with apple cider vinegar in the morning. Vinegar helps remove stains, whiten teeth and kills bacteria in the mouth and gums. After rinsing, the new brush your teeth as usual.
3. From diarrheaYou can also drink warm water mixed with two tablespoons of apple cider, while experiencing diarrhea. If the diarrhea caused by bacterial infection, apple cider vinegar can ease, due to the antibiotic.
4. Midnight leg crampsIf your legs are cramping in the middle of the night, drink a mixture of warm water, a teaspoon of honey and two tablespoons of apple cider vinegar. This herb is quite effective in relieving cramps.
5. Itchy throatWhen you are just beginning to feel the itch in the throat, immediately rinse with vinegar water every hour. In this way, the bacteria trigger itching in the throat may be dead, so the complaint could not get worse.• VIVAnews

see also article: Predicted emergence tantrum "Super Continental" and download Aurora 3D Presentation 2011 v11.12.22 Full Keygen


INA languange: 
Cuka Apel, Si 'Obat' Asam
Menurut penelitian, asam asetat yang terdapat pada cuka apel bisa mematikan sel kanker.Dipagi yang cerah ini kali ini bayu7key akan membagikan sedikit tips tips kesehatan seputar Cuka Apel, Si 'Obat' Asam  dari pada berpanjang lebar berbasa basi mendingan langsung di simak aja tips tips yang bayu dapat dari forum vivanew,com oke...
Satu lagi ramuan alami yang bisa Anda andalkan untuk mengatasi masalah kesehatan ringan, yaitu cuka apel. Hasil fermentasi dari buah apel ini diketahui memiliki banyak manfaat.

Menurut penelitian John Institute for Cancer Research, asam asetat yang terdapat pada cuka apel bisa mematikan sel kanker. Asam tersebut, seperti dilansir dari Reader's Digest, berfungsi menahan asupan energi yang dibutuhkan sel kanker untuk berkembang.
Tak hanya itu saja, masih ada manfaat cuka apel lain, yang perlu Anda ketahui.

1. Mengatasi kelelahan 
Olahraga dan stres ekstrim akan membuat penimbunan asam laktat dalam tubuh yang memicu kelelahan. Asam amino yang terdapat pada cuka apel ini, bertindak sebagai penangkal asam laktat.
Gabungan asam amino, kalium dan enzim yang terdapat di dalamnya dapat meredakan kelelahan dengan lebih efektif. Jadi, ketika Anda merasa sangat kelelahan, minum campuran segelas air dengan dua sendok cuka apel.

2. Membuat gigi lebih putih
Ingin membuat gigi lebih terlihat bersih? Cobalah berkumurlah dengan cuka apel di pagi hari. Cuka membantu membuang noda, memutihkan gigi dan membunuh bakteri di mulut serta gusi. Setelah berkumur, baru sikat gigi Anda seperti biasa.

3. Mengatasi diare
Anda juga bisa meminum campuran air hangat dengan dua sendok makan cuka apel, saat mengalami diare. Jika diare disebabkan infeksi bakteri, cuka apel dapat meredakan, karena sifat antibiotiknya.

4. Kram kaki tengah malam
Kalau kaki Anda sering kram di tengah malam, minumlah campuran air hangat, satu sendok teh madu dan dua sendok makan cuka apel. Ramuan ini cukup efektif meredakan kram.

5. Tenggorokan gatal

Saat Anda baru mulai merasakan gatal di tenggorokan, segera berkumur dengan air cuka apel setiap satu jam. Dengan cara ini, bakteri pemicu gatal di tenggorokan bisa segera mati, sehingga keluhan tak semakin parah.
• VIVAnews 

Apakah teknik radiokarbon dapat digunakan untuk mengetahui umur apa saja?

Written By Bayu_Tecno™ on Sabtu, 17 Desember 2011 | 07.39

Teknik ini tidak akan menolong kita jika yang ingin kita ketahui umurnya masih hidup, misalnya teman mengobrol kita lewat internet yang mengaku 25 tahun. Penentuan umur menggunakan teknik radiokarbon (radiocarbon dating) berguna untuk menentukan umur tumbuhan atau sisa hewan yang mati sekitar lima ratus hingga lima puluh ribu tahun lampau. 

Sejak ditemukan oleh gurubesar kimia University of Chicago, Willard F. Libby (1908-1980) sekitar tahun 1950-an (ia menerima Hadiah Nobel untuk penemuan tersebut pada tahun 1960), teknik radiokarbon telah menjadi perkakas riset sangat ampuh dalam arkeologi, oseanografi, dan beberapa cabang ilmu lainnya. Agar teknik radiokarbon dapat memberitahu umur sebuah objek, objek tersebut harus mengandung carbon organic, yakni karbon yang pernah menjadi bagian dalam tubuh tumbuhan atau hewan. Metode radiocarbon dating memberitahu kita berapa lama yang lalu suatu tumbuhan atau hewan hidup, atau lebih tepat, berapa lama yang lalu tumbuhan atau hewan itu mati.

Uji radiocarbon dapat dilakukan terhadap bahan-bahan seperti kayu, tulang, arang dari perapian perkemahan atau gua purba, atau bahkan kain linen yang digunakan untuk membungkus mummi, karena kain linen itu terbuat dari serat tanaman flax. Karbon adalah salah satu unsur kimia yang dikandung oleh setiap makhluk hidup dalam bentuk macam-macam bahan biokimia, dalam protein, karbohidrat, lipid, hormone, enzim, dsb. Sesungguhnya, ilmu kimia yang mempelajari bahan kimia berbasis karbon disebut “kimia organik” karena dahulu orang yakin bahwa satu-satunya tempat bagi bahan kimia ini adalah makhluk hidup. Kini, orang tahu bahwa kita dapat membuat segala macam bahan kimia organik berbasis karbon dari minyak bumi tanpa harus mengambil dari tumbuhan atau hewan.

Tetapi, karbon dalam makhluk hidup berbeda dalam satu hal penting dari karbon dalam bahan-bahan bukan makhluk hidup seperti batu bara, minyak bumi, dan mineral. Karbon “hidup” mengandung sejumlah kecil atm karbon jenis tertentu yang disebut karbon-14, sedangkan karbon”mati” hanya mengandung atom-atom karbon-12 dan karbon-13. Ketiga macam atom-atom karbon berbeda itu disebut isotop-isotop karbon; mereka semua mempunyai perilaku sama secara kimiawi, tetapi mempunyai berat yang berbeda-beda, atau lebih tepat, mempunyai massa berbeda-beda.

Yang unik seputar karbon-14, disamping massanya, adalah karena mereka radioaktif. Yakni, mereka tidak stabil dan cenderung melapuk, terpecah sambil menembakkan partikel-partikel subatom: disebut partikel-partikel beta. Dengan demikian semua makhluk hidup sebetulnya bersifat radioaktif, meskipun sedikit, yaitu karena memiliki karbon-14. Betul termasuk anda dan saya, kita semua radioaktif. Orang dengan berat 68 kg mengandung sekitar sejuta miliar atom karbon-14 yang menembakkan 200.000 partikel beta setiap menit!!

Daya Kerja Deterjen

Sebagai bahan pembersih lainnya, deterjen merupakan buah kemajuan teknologi yang memanfaatkan bahan kimia dari hasil samping penyulingan minyak bumi, ditambah dengan bahan kimia lainnya seperti fosfat, silikat, bahan pewarna, dan bahan pewangi. sekitar tahun 1960-an, deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) yang mampu menghasilkan busa. Namun karena sifat ABS yang sulit diurai oleh mikroorganisme di permukaan tanah, akhirnya digantikan dengan senyawa Linier Alkyl Sulfonat (LAS) yang diyakini relatif lebih akrab dengan lingkungan.

Pada banyak negara di dunia penggunaan ABS telah dilarang dan diganti dengan LAS. Sedangkan di Indonesia, peraturan mengenai larangan penggunaan ABS belum ada. Beberapa alasan masih digunakannya ABS dalam produk deterjen, antara lain karena harganya murah, kestabilannya dalam bentuk krim/pasta dan busanya melimpah.

Penggunaan sabun sebagai bahan pembersih yang dilarutkan dengan air di wilayah pegunungan atau daerah pemukiman bekas rawa sering tidak menghasilkan busa. Hal itu disebabkan oleh sifat sabun yang tidak akan menghasilkan busa jika dilarutkan dalam air sadah (air yang mengandung logam-logam tertentu atau kapur). Namun penggunaan deterjen dengan air yang bersifat sadah, akan tetap menghasilkan busa yang berlimpah.

Sabun maupun deterjen yang dilarutkan dalam air pada proses pencucian, akan membentuk emulsi bersama kotoran yang akan terbuang saat dibilas. Namun ada pendapat keliru bahwa semakin melimpahnya busa air sabun akan membuat cucian menjadi lebih bersih. Busa dengan luas permukaannya yang besar memang bisa menyerap kotoran debu, tetapi dengan adanya surfaktan, pembersihan sudah dapat dilakukan tanpa perlu adanya busa.

Opini yang sengaja dibentuk bahwa busa yang melimpah menunjukkan daya kerja deterjen adalah menyesatkan. Jadi, proses pencucian tidak bergantung ada atau tidaknya busa atau sedikit dan banyaknya busa yang dihasilkan. Kemampuan daya pembersih deterjen ini dapat ditingkatkan jika cucian dipanaskan karena daya kerja enzim dan pemutih akan efektif. Tetapi, mencuci dengan air panas akan menyebabkan warna pakaian memudar. Jadi untuk pakaian berwarna, sebaiknya jangan menggunakan air hangat/panas.

Pemakaian deterjen juga kerap menimbulkan persoalan baru, terutama bagi pengguna yang memiliki sifat sensitif. Pengguna deterjen dapat mengalami iritasi kulit, kulit gatal-gatal, ataupun kulit menjadi terasa lebih panas usai memakai deterjen.

2,3-dimercapto-succinic acid (DMSA) sebagai agen khelasi

Khelasi (Chelation), berasal dari bahasa Yunani chele yang berarti sepit, merujuk kepada tangan kepiting atau kalajengking. Khelasi merupakan suatu proses reversible pembentukan ikatan dari suatu ligan, yang disebut khelator atau agen khelasi, dengan suatu ion logam membentuk suatu komplek metal yang disebut khelat. Tipe ikatan yan terbentuk dapat berupa ikatan kovalen atau ikatan kovalen koordinasi.

Terapi khelasi merupakan suatu metoda yang digunakan dalam mengatasi keracunan logam berat seperti merkuri. Dalam metoda ini digunakan senyawa organik tertentu yang dapat mengikat merkuri dan mengeluarkannya dari dalam tubuh manusia. Senyawa tersebut  memiliki gugus atom dengan pasangan elektron bebas, elektron tersebut akan digunakan dalam pembentukan ikatan dengan merkuri. Beberapa senyawa organik yang bisa digunakan sebagai khelator adalah dimercaprol, 2,3-dimercaptosuccinic acid (DMSA).

2,3-dimercapto-succinic acid (DMSA) merupakan senyawa organik larut dalam air, yang mengandung dua gugus tiol (-SH). DMSA merupakan khelator yang efektif dan aman digunakan dalam penanganan keracunan logam berat seperti timbal, arsen dan merkuri. Senyawa ini telah digunakan dalam penanganan keracunan merkuri sejak tahun 1950-an di Jepang, Rusia dan Republik Rakyat China, dan sejak tahun 1970-an digunakan di Eropa dan Amerika Serikat.

Senyawa 2,3-dimercapto-succinic acid (DMSA)

Senyawa organik yang dikenal juga dengan nama dagang chemet ini merupakan khelator yang efektif dalam penanganan keracunan logam berat seperti timbal, arsen dan merkuri. Serangkaian penelitian menunjukkan bahwa DMSA mampu mengeluarkan 65 % merkuri dari dalam tubuh manusia dalam selang waktu tiga jam (Patrick : 2002)

DMSA relatif aman digunakan sebagai khelator. Pada manusia normal, manusia, yang tidak terkontaminasi merkuri, 90 % DMSA yang diabsorbsi tubuh, diekskresikan melalui urin dalam bentuk disulfida dengan gugus thiol sistein. Sedangkan sisanya berada dalam bentuk bebas atau tanpa ikatan dengan gugus lain.

Dalam upaya mempercepat proses pengeluaran merkuri dalam tubuh manusia, DMSA dapat digunakan bersamaan dengan khelator lain seperti ALA (Alpha Lipoic Acid). DMSA juga dapat digunakan  bersamaan  dengan anti oksidan, seperti vitamin E dan vitamin C, dalam upaya mengurangi gangguan kesehatan sebagai akibat pembentukan radikal bebas oleh merkuri (Patrick : 2003)

Referensi

Miller, Alan L. 1998, Dimercaptosuccinic Acid (DMSA), A Non-toxic, Water-Soluble Treatment for Heavy Metal Toxicity. Alternative Medicine Review vol 3 (3) 199-207.
Patrick, Lyn. 2002, Mercury Toxicity and Anti Oksidant: part I: Role Of Gluthatione And Alpha-Lipoic Acid in The Treatment of Mercury Toxicity. Alternative Medicine Review Vol 7 (6) 456-471.
Patrick, Lyn. 2003, Toxic metal and antioksidants: part II. The Role of Antioxidants in arsenic and cadmium Toxicity. Alternative Medicine Review Vol 8 (2) 106.

Asam Dipikolinat (piridin-2,6-dikarboksilat) Sebagai Ligan Pilihan Pada Kompleks Untuk


Penelitian di bidang obat-obatan kimia anorganik, akhir-akhir ini telah dikembangkan dengan memanfaatkan ligan-ligan pengkhelat yang terkoordinasi bersama ion-ion logam, kompleks yang terbentuk diarahkan sebagai kontrol dalam bioaktivitas. Agen pengkhelat dari ligan ini memberikan keuntungan dalam stabilitas kompleks yang terbentuk (Ryan E. Mewis. 2010). Asam dipikolinat dapat sebagai ligan anionik berupa dipic2-. Ligan dipikolinat termasuk jenis ligan tridentat dengan tiga atom donor pasangan elektron, yaitu N (nitrogen) dan 2 buah atom O (oksigen). Karena memiliki lebih dari satu atom donor, ligan dipikolinat termasuk ligan jenis pengkhelat (sepit) (Paul M. Pellegrino. 2001).

Dipikolinat ini banyak ditemukan dalam beberapa senyawa alami sebagai suatu produk degradasi oksidatif dari vitamin, koenzim, dan alkaloid, serta merupakan suatu komponen darifulvic acid. Asam dipikolinat (piridin-2,6-dikarboksilat) juga menunjukkan beberapa fungsi biologis, di antaranya adalah kemampuan untuk aktivasi-inaktivasi dari beberapa mettaloenzim, penghambat transfer elektron, oksidasi LDL, selain itu juga toksisitas yang rendah (low toxicity) dari piridin-2,6-dikarboksilat banyak digunakan dalam model senyawametallo-pharmaceutical (Zafar A. Siddiqi. 2009).
Akhirnya, asam dipikolinat menjadi salah satu ligan yang paling sesuai untuk senyawa pharmacological yang aktif, karena sifatnya yang rendah toksisitas dan amphophilic (AC. Gozales-Baro. 2005). Turunan asam karboksilat dan piridin telah banyak ditemukan kegunaannya dalam bidang kimia analitik dan sebagai penghambat korosi. Suatu asam dengan gugus karboksilat yang bertetangga dengan atom nitrogen berperan dalam suatu pembentukan reaksi kompleks dengan beragam ion logam (B. Setlow. 1993).
Asam dipikolinat juga merupakan penyusun utama dari bakteri spora. Dalam beberapa bakteri, asam dipikolinat menyumbang 17% dari berat spora. Asam dipikolinat (H2dipic), atau piridin-2,6-dikarboksilat dipercaya merupakan faktor utama yang berperan dalam melindungi spora dari panas dan radiasi UV (Alper Tolga, et al. 2009). Senyawa ini juga berperan untuk menjaga kestabilan dan pertumbuhan spora. Asam dipikolinat dalam sistem biologis, dipelajari pertama kali oleh Udo pada tahun 1936. Keberadaan asam piridin-2,6-dikarboksilat pada spora bakteri dipelajari oleh Powell pada tahun 1953. Molekul ini juga terdapat pada beberapa jamur.
Molekul ini tidak bereaksi dalam beberapa perubahan kimia, karena sifatnya yang inert dan tidak reaktif, tetapi mendapat perhatian yang lebih dalam bidang biologi, karena keberadaannya pada spora bakteri. Molekul asam piridin-2,6-dikarboksilat juga merupakan suatu agen pengkelat yang utama, sifat ini telah dipelajari dalam pergeseran kesetimbangan chiral-induced, yang dikenal juga sebagai efek Pfeiffer. Efek ini telah digunakan untuk membuktikan kemampuan optis dari kelat ion dipikolinat dengan beberapa logam lanthanida.

tourism

More on this category »

Technology News

More on this category »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Babel_News™ - All Rights Reserved
Template Modify by AriefSaraV Bayu_Tecno™
Proudly powered by Blogger